A. DEFINISI FILSAFAT ILMU
|
NO
|
URAIAN
|
TOKOH
|
REFERENSI
|
|
1.
2.
.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
|
FILSAFAT
ILMU: Segenap pemikiran reflektif terhadap permasalahan-permasalahan mengenai
segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala
segi dari kehidupan manusia.
FILSAFAT
ILMU: Studi gabungan yang terdiri atas .beberapa studi yang beraneka ragam
yang ditujukan untuk menentukan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu
FILSAFAT ILMU: Perumusan world-view yang konsisten dengan, dan pada beberapa pengertian
didasarkan atas teori-teori ilmiah yang penting.
FISAFAT ILMU: Suatu eksposisi dari presup positions
dan predis positions dari pada ilmuan
FILSAFAT ILMU: Suatu disiplin yang di dalamnya
konsep dan teori tentang ilmu dianalisis dan diklafikasikan.
FILSAFAT ILMU(Dalam arti luas) Menampung
permasalahan yang menyangkut hubungan ke luar dari kegiatan ilmiah, seperti:
1. Implikasi ontologik-metefisik dari citra dunia
yang bersifat ilmiah
2. Tata susila yang menjadi pegangan penyelenggara
ilmu
3. Konsekuensi pragmatic-etik penyelenggara ilmu
dsb.
FILSAFAT ILMU(Dalam arti sempit): Menampung
permasalahan yang bersangkutan dengan hubungan ke dalam yang terdapat di
dalam ilmu, yaitu yang menyangkut sifat pengetahuan ilmiah dan cara-cara
mengusahakan serta mencapai pengetahan ilmiah.
FILSAFAT ILMU: Merupakan suatu studi “scientific
achievement in vivo”.
FILSAFAT ILMU: Merupakan suatu studi tentang
masalah-masalah mengenai penjelasan (Problem Explanation).
FILSAFAT ILMU: Merupakan bagian dari
epistimologi(Filsafat Pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat
ilmu(Pengetahuan Ilmiah).
FILSAFAT ILMU: Penyelidikan tentang cirri-ciri
pengetahuan alamiah untuk memperolehnya. Istilah lain dari Filsafat Ilmu
ialah teory of science(teori ilmu), metascience dan science of science(ilmu
tentang ilmu)
FILSAFAT
ILMU:Refleksi mendasardan integral mengenai hakikat ilmu pengetahuan itu
sendiri.
FILSAFAT ILMU: Upaya untuk mencari kejelasan
mengenai dasar-dasar konsep,sangka wacana, dan postulat mengenai ilmu dan
upaya untuk membuka tabir dasar-dasar keempirisan, kerasionalan dan
kepragmatisan.
FILSAFAT ILMU: Suatu telaah kritis terhadap metode
yang digunakan oleh ilmu tertentu, terhadap lambing yang digunakan dan
terhadap struktur penalaran tentang sistem lambang yang digunakan.
FILSAFAT
ILMU: Merupakan suatu patokan tingkat kedua(second order criteriologi)
|
THE
LIANG GIE (1999)
HARTONO
KASMADI(1990)
HARTONO
KASMADI(1990)
HARTONO
KASMADI(1990)
HARTONO
KASMADI(1990)
BEERLING(1988)
BEERLING(1988)
STEPHEN
TOULMIN
ERNEST
NAGEL
JUJUN
S. SURIA SUMANTRI
SURAJIYO
SURAJIYO
HARTONO
KASMADI,dkk (1990)
HARTONO
KASMADI, dkk(1990)
HAARTONO
KASMADI, dkk(1990)
|
Surajiyo,
2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Surajiyo,
2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Surajiyo,
2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Surajiyo,
2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Surajiyo,
2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Surajiyo,
2007, Fisafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Surajiyo,
2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Putrawan,
Made DR. I. 2002, Dimensi kreatif Dalam
Filsafat Ilmu, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Suriasumantri
S. Jujun,2003, Filsafat Ilmu Sebuah
Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar
Surajiyo,
2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Surajiyo,
2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Surajiyo,
2007, Filsafat ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Surajiyo,
2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Surajiyo,
2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
|
- OBJEK FILSAFAT ILMU
|
NO
|
URAIAN
|
TOKOH
|
REFERENSI
|
|
1.
2.
|
OBJEK
MATERIAL: Sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehigga dapat
dipertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.
OBJEK
FORMAL: Hakikat(Esensi) ilmu pengeahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh
perhatian pada problem mendasar ilmu pengetahuan.
|
SURAJIYO
SURAJIYO
|
Surajiyo,
2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Surajiyo,
2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya
di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
|
- PERBEDAAN FILSAFAT ILMU DENGAN ILMU LAIN
|
NO
|
URAIAN
|
TOKOH
|
REFERENSI
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Filsafat
ilmu: pengetahuan tentang cirri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara pangetahuan
ilmiah memperolehnya.
Ilmu
filsafat: Ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai
ketuhanan, alam semesta & manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan
tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia.
Filsafat
ilmu adalah suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu
tertentu terhadap lambang yang digunakan dan terhadap struktur penalaran
tentang sistem lambang yang digunakan.Psikologi ilmu adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari perilaku dan proses mental.
Melalui
pendidikan manusia mengenal kehidupan masa lalu, turut serta dalam peradaban
sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang. Dengan demikian
kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespon dan
berlandaskan pada perkembangannya, sosial budaya dalam suatu masyarakat, baik
dalam konteks local, nasional maupun global.
Setiap
lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem sosial budaya tersendiri
yang mengatur cara kehidupan dan berprilaku pada warga masyarakat.
Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama,budaya, politik atau
segi-segi kehidupan lainnya.
|
HASBULLAH BAKRY
ISRAEL SCHEFFER
|
|
- KEDUDUKAN FILSAFAT ILMU
|
NO
|
URAIAN
|
TOKOH
|
REFERENSI
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Sejarah filsafat ilmu
selalu menaruh perhatian kepada permasalahan pertama filsafat realita,
pengetahuan dan nilai.
Membantu seorang ahli
filsafat untuk menjawab persoalan pengetahuan yang menjadi permasalahan utama
seorang ahli filsafat.
Sebagai suatu ikhtiar
berfikir, maka bukan berarti untuk merumuskan suatu doktrin yang final,
konklusif dan tidak bisa diganggu gugat.
Dihat dari sejarah ilmu
pengetahuan alam awalnya orang tetap mempertahankan penggunaan nama atau
istilah filsafat alam bagi ilmu pengetahuan alam, tidak terlepas dari
hubungan dengan ilmu induknya dengan fisafat.
|
|
Drs.H.M.Djumberani Syah
Indar,M.E d Filsafat Pendidikan (Surabaya : Kraya abditama, 1994)
“
“
“
|
- MANFAAT MEMPELAJARI FILSAAFAT ILMU