Minggu, 30 Desember 2012

Definisi, Objek Filsafat Ilmu dan Perbedaannya dengan Ilmu Lainnya


A. DEFINISI FILSAFAT ILMU
NO
URAIAN
TOKOH
REFERENSI
1.






2.
.




3.



4.




5.

 


6.










7.







8.

9.

 


10.





11.







12.




13.







14.






15.
FILSAFAT ILMU: Segenap pemikiran reflektif terhadap permasalahan-permasalahan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.

FILSAFAT ILMU: Studi gabungan yang terdiri atas .beberapa studi yang beraneka ragam yang ditujukan untuk menentukan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu

FILSAFAT ILMU: Perumusan world-view yang konsisten dengan, dan pada beberapa pengertian didasarkan atas teori-teori ilmiah yang penting.

 FISAFAT ILMU: Suatu eksposisi dari presup positions dan predis positions dari pada ilmuan


FILSAFAT ILMU: Suatu disiplin yang di dalamnya konsep dan teori tentang ilmu dianalisis dan diklafikasikan.


FILSAFAT ILMU(Dalam arti luas) Menampung permasalahan yang menyangkut hubungan ke luar dari kegiatan ilmiah, seperti:
1. Implikasi ontologik-metefisik dari citra dunia yang bersifat ilmiah
2. Tata susila yang menjadi pegangan penyelenggara ilmu
3. Konsekuensi pragmatic-etik penyelenggara ilmu dsb.

FILSAFAT ILMU(Dalam arti sempit): Menampung permasalahan yang bersangkutan dengan hubungan ke dalam yang terdapat di dalam ilmu, yaitu yang menyangkut sifat pengetahuan ilmiah dan cara-cara mengusahakan serta mencapai pengetahan ilmiah.

FILSAFAT ILMU: Merupakan suatu studi “scientific achievement in vivo”.
FILSAFAT ILMU: Merupakan suatu studi tentang masalah-masalah mengenai penjelasan (Problem Explanation).


FILSAFAT ILMU: Merupakan bagian dari epistimologi(Filsafat Pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu(Pengetahuan Ilmiah).


FILSAFAT ILMU: Penyelidikan tentang cirri-ciri pengetahuan alamiah untuk memperolehnya. Istilah lain dari Filsafat Ilmu ialah teory of science(teori ilmu), metascience dan science of science(ilmu tentang ilmu)


 FILSAFAT ILMU:Refleksi mendasardan integral mengenai hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.


FILSAFAT ILMU: Upaya untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep,sangka wacana, dan postulat mengenai ilmu dan upaya untuk membuka tabir dasar-dasar keempirisan, kerasionalan dan kepragmatisan.

FILSAFAT ILMU: Suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu, terhadap lambing yang digunakan dan terhadap struktur penalaran tentang sistem lambang yang digunakan.

FILSAFAT  ILMU: Merupakan suatu patokan tingkat kedua(second order criteriologi)
THE LIANG GIE (1999)






HARTONO KASMADI(1990)

 

HARTONO KASMADI(1990)



HARTONO KASMADI(1990)



HARTONO KASMADI(1990)



BEERLING(1988)










BEERLING(1988)







STEPHEN TOULMIN

ERNEST NAGEL


 

JUJUN S. SURIA SUMANTRI

 


SURAJIYO







SURAJIYO




HARTONO KASMADI,dkk (1990)






HARTONO KASMADI, dkk(1990)





HAARTONO KASMADI, dkk(1990)


Surajiyo, 2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.




Surajiyo, 2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.

 
Surajiyo, 2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.


Surajiyo, 2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.


Surajiyo, 2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.


Surajiyo, 2007, Fisafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.








Surajiyo, 2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.





Putrawan, Made DR. I. 2002, Dimensi kreatif Dalam Filsafat Ilmu, Bandung: Remaja Rosda Karya.



Suriasumantri S. Jujun,2003, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar



Surajiyo, 2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.





Surajiyo, 2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.

Surajiyo, 2007, Filsafat ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.




Surajiyo, 2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.



Surajiyo, 2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.

  1. OBJEK FILSAFAT ILMU
NO
URAIAN
TOKOH
REFERENSI
1.


2.



OBJEK MATERIAL: Sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehigga dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya secara umum.
OBJEK FORMAL: Hakikat(Esensi) ilmu pengeahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian pada problem mendasar ilmu pengetahuan. 
SURAJIYO


SURAJIYO



Surajiyo, 2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.

Surajiyo, 2007, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.

  1. PERBEDAAN FILSAFAT ILMU DENGAN ILMU LAIN
NO
URAIAN
TOKOH
REFERENSI
1.













2.











3.














4.
Filsafat ilmu: pengetahuan tentang cirri-ciri pengetahuan ilmiah dan cara pangetahuan ilmiah memperolehnya.
Ilmu filsafat: Ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta & manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia.

Filsafat ilmu adalah suatu telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu terhadap lambang yang digunakan dan terhadap struktur penalaran tentang sistem lambang yang digunakan.Psikologi ilmu adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku dan proses mental.

Melalui pendidikan manusia mengenal kehidupan masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang. Dengan demikian kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespon dan berlandaskan pada perkembangannya, sosial budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks local, nasional maupun global.

Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem sosial budaya tersendiri yang mengatur cara kehidupan dan berprilaku pada warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama,budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.
HASBULLAH BAKRY












ISRAEL SCHEFFER




  1. KEDUDUKAN FILSAFAT ILMU
NO
URAIAN
TOKOH
REFERENSI
1.




2.





3.





4.
Sejarah filsafat ilmu selalu menaruh perhatian kepada permasalahan pertama filsafat realita, pengetahuan dan nilai.

Membantu seorang ahli filsafat untuk menjawab persoalan pengetahuan yang menjadi permasalahan utama seorang ahli filsafat.

Sebagai suatu ikhtiar berfikir, maka bukan berarti untuk merumuskan suatu doktrin yang final, konklusif dan tidak bisa diganggu gugat.

Dihat dari sejarah ilmu pengetahuan alam awalnya orang tetap mempertahankan penggunaan nama atau istilah filsafat alam bagi ilmu pengetahuan alam, tidak terlepas dari hubungan dengan ilmu induknya dengan fisafat.

Drs.H.M.Djumberani Syah Indar,M.E d Filsafat Pendidikan        (Surabaya : Kraya abditama, 1994)
             





             





             

  1. MANFAAT MEMPELAJARI FILSAAFAT ILMU

PSYCHOLOGYCAL WELL-BEING & KESEHATAN MENTAL


PSYCHOLOGYCAL WELL-BEING & KESEHATAN MENTAL


Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Psikologi Kesehatan Mental


Dosen Pengampuh:
TRISTIADI ARDI ARDANI, M. Si, Psi



Oleh:
DIANA VF.                        07410037

 

JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM
April 2010


BAB I
PENDAHULUAN

Kesehatan mental merupakan keinginan wajar bagi setiap manusia seutuhnya, tapi tidaklah mudah mendapatkan kesehatan jiwa seperti itu. Perlu pembelajaran tingkah laku, pencegahan yang dimulai secara dini untuk mendapatkan hasil yang dituju oleh manusia. Tidak seorangpun yang tidak ingin menikmati ketenangan hidup, dan semua orang akan berusaha mencarinya, meskipun tidak semuanya dapat mencapai yang diinginkannya itu. Bermacam sebab dan rintangan yang mungkin terjadi sehingga banyak orang yang mengalami kegelisahan, kecemasan dan ketidak puasan.
Keadaan yang tidak menyenangkan itu tidak terbatas kepada golongan tertentu saja, tetapi tergantung pada cara orang menghadapi sesuatu persoalan. Misalnya ada orang miskin yang gelisah karena banyak keinginannya yang tidak tercapai, bahkan orang kaya  yang juga gelisah, cemas dan merasa tidak tentram dalam hidupnya yang diakibatkan faktor lain seperti kebosanan atau ingin menambah hartanya lebih banyak lagi.
Setiap orang, baik yang berpangkat tinggi atau tidak berpangkat bahkan seorang pesuruh, menemui kesukaran dalam berbagai bentuk. Hanya satu hal yang sama-sama dirasakan yaitu ketidaktenangan jiwa. Sesungguhnya ketenangan hidup, ketentraman jiwa atau kebahagiaan batin, tidak tergantung kepada faktor-faktor luar seperti keadaan sosial, ekonomi, politik, adat kebiasaan dsb. Akan tetapi lebih tergantung dari cara dan sikap menghadapi faktor-faktor tersebut.
Jadi yang menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup adalah kesehatan mental. Kesehatan mental itulah yang menentukan tanggapan seseorang terhadap suatu persoalan, dan kemampuannya menyesuaikan diri. Kesehatan mental pulalah yang  yang menentukan apakah orang akan menpunyai kegairahan untuk hidup, atau akan pasif atau tidak bersemangat.

Orang yang sehat mentalnya tidak akan lekas merasa putus asa, pesimis atau apatis, karena ia dapat mengahadapi semua rintangan  atau kegagalan hidupnya dengan tenang. Apabila kegagalan itu dihadapi dengan tenang, akan dapatlah dianalisa, dicari sebab-sebab yang dimenimbulkannya, atau ditemukan faktor-faktor yang tidak pada tempatnya. Dengan demikian akan dapat dijadikan pelajaran yaitu menghindari semua hal-hal yang membawa kegagalan pada waktu yang lain.
Untuk menelusurinya diperlukan keterbukaan psikis manusia ataupun suatu penelitian secara langsung atau tidak langsung pada manusia yang menderita gangguan jiwa.
Pada dasarnya untuk mencapai manusia dalam segala hal diperlukan psikis yang sehat. Sehingga dapat berjalan menurut tujuan manusia itu diciptakan secara normal.

Permasalahan
Sampai sejauh mana manusia digerogoti gangguan jiwa dan bagaimana manusia itu melakukan proses penanganan

Tujuan
Untuk memahami tentang psichologycal well-being dan kesehatan mental











BAB II
PEMBAHASAN

Dimensi Psychological Well-being
Menurut Ryff (dalam Adult Development and Aging, 2002) secara psikologis, manusia memiliki sikap positif terhadap diri dan orang lain. Mereka mampu membuat keputusan sendiri, dan mengatur tingkah laku mereka, serta mereka mampu memilih dan membentuk lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Setiap orang memiliki tujuan yang berarti dalam hidupnya, dan mereka berusaha untuk menggali dan mengembangkan diri mereka semaksimal mungkin. Ryff dalam buku Human Development (2000) juga memberi definisi well-being dalam adulthood dan menunjukkan bagaimana orang dewasa memandang diri mereka sendiri yang berbeda pada beberapa hal di masa adulthood mereka Berikut ini terdapat beberapa dimensi dari Psychological Well-Being dalam skala Ryff:
1. Self-Acceptance
Nilai tinggi: memiliki sikap yang positif pada diri sendiri, menerima diri baik aspek yang positif maupun negatif, memandang positif masa lalu
Nilai rendah: merasa tidak puas terhadap diri sendiri, kecewa dengan masa lalu, ingin menjadi orang yang bebeda dari dirinya saat ini

2. Positive Relation with Others
Nilai tinggi: hangat, merasa puas, percaya berhubungan dengan orang lain; memikirkan kesejahteraan orang lain; memiliki empati, affection dan intimacy; dalam suatu hubungan dapat saling mengerti, memberi, dan menerima.
Nilai rendah: tidak nyaman dekat dengan orang lain, merasa terisolasi dan frustasi jika berhubungan dengan orang lain, tidak bisa terikat dengan orang lain




3. Autonomy
Nilai tinggi: mandiri,mampu mempertahankan diri dari pengaruh luar (tidak konformitas), mampu mengatur diri, mampu mengevaluasi diri
Nilai rendah: terlalu memperhatikan harapan dan evaluasi dari luar, tidak membuat keputusan sendiri (minta bantuan dari orang lain untuk mengambil keputusan penting), konformitas.

4. Environmental Mastery
Nilai tinggi: mampu mengatur lingkungan, mampu mengatur aktivitas luar, mampu memnfaatkan kesempatan yang datang secara efektif, mampu memilih dan menciptakan konteks yang cocok dengan kebutuhan dan nilai personal
Nilai rendah: sulit mengatur kegiatan sehari-hari, merasa tidak mampu untuk mengubah atau memperbaiki lingkungan, mengabaikan kesempatan yang hadir, tidak dapat mengontrol pengaruh dari luar.

5. Purpose in Life
Nilai tinggi: memiliki tujuan hidup, merasakan masa kini dan masa lalu adalah berarti, memiliki keyakinan hidup
Nilai rendah: kurang memiliki keberartian hidup, sedikit memiliki tujuan hidup, tidak menganggap tujuan hidupnya di masa lalu, tidak memiliki keyakinan dalam hidup.

6. Personal Growth
Nilai tinggi: selalu punya keinginan mengembangkan diri, terbuka dengan pengalaman baru, menyadari potensi yang dimiliki, selalu memperbaiki diri dan tingkah laku
Nilai rendah: personal stagnation, tidak dapat meningkatkan dan mengembangkan diri, merasa jenuh dan tidak tertarik dengan kehidupan, merasa tidak mampu untuk mengembangkan sikap atau tingkah laku yang baru.


Faktor-faktor yang mempengaruhi psychological well-being (Andrew and Robinson 1991 dalam skripsi “Gambaran Psychological Well-Being pada Lansia yang terlibat dalam kelompok ‘Kencana’ oleh Endah Puspita Sari (2004) :
a. Faktor kepribadian
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Costa dan McCrae (1980) menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepribadian extroversion dan neurotis dengan psychological well-being

b. Faktor dukungan social
Hasil penelitian menemukan bahwa dukungan sosial dari lingkungan sekitar individu akan sangat mempengaruhi psychological well-being yang dirasakan oleh individu tersebut.

c. Faktor pengalaman hidup
Interpretasi individu terhadap pengalaman hidupnya akan berpengaruh pada penilaian individu terhadap kehidupannya secara umum.

Dijelaskan pula bahwa kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman yang sebaya dapat membuka kesempatan pada individu usia lanjut untuk belajar dari pengalaman hidup individu lain dan menginterpretasikan kembali pengalaman hidupnya sehingga akan membantu indivisu tersebut dalam mengontrol pengalaman emosi positif atau negatif. Dengan memiliki teman, individu usia lanjut akan merasa memiliki dukungan sosial di luar keluarganya, menimbulkan perasaan dihargai dan diinginkan meskipun mereka sudah mengalami kemunduran dan keterbatasan.






Pengertian Kesehatan Mental
Istilah “kesehatan mental” diambil dari konsep mental hygiene. Kata “mental” diambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahas latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan.
Kesehatan mental merupakan bagian dari psikologi agama, terus berkembang dengan pesat. Hal ini tidak terlepas dari kondisi masyarakat yang membutuhkan jawaban atas berbagai permasalahan yang melingkupinya.

Kesehatan Mental
Seseorang dapat dikatakan sehat tidak cukup hanya dilihat dari segi fisik, psikologis, dan sosial saja, tetapi juga perlu dilihat dari segi spiritual atau agama. Inilah kemudian yang disebut Dadang Hawari sebagai empat dimensi sehat itu, yaitu: bio-psiko-sosial-spiritual. Jadi seseorang yang sehat mentalnya tidak cukup hanya terbatas pada pengertian terhindarnya dia dari gangguan dan penyakit jiwa baik neurosis maupun psikosis, melainkan patut pula dilihat sejauhmana seseorang itu mampu menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, mampu mengharmoniskan fungsi-fungsi jiwanya, sanggup mengatasi problema hidup termasuk kegelisahan dan konflik batin yang ada, serta sanggup mengaktualisasikan potensi dirinya untuk mencapai kebahagiaan
Istilah kesehatan mental sendiri memperoleh pengertian yang beragam seiring perkembangannya:
(1) sebagai kondisi atau keadaan sebagaimana gambaran di atas;
(2) sebagai ilmu pengetahuan cabang dari ilmu psikologi yang bertujuan mengembangkan potensi manusia seoptimal mungkin dan menghindarkannya dari gangguan dan penyakit kejiwaan;
(3) sebagai terapi atau ilmu terapan guna membantu mengatasi gangguan dan penyakit kejiwaan.



Untuk mengetahui apakah seseorang sehat atau terganggu mentalnya, tidaklah mudah. Biasanya yang dijadikan bahan penyelidikan atau tanda-tanda dari kesehatan mental adalah tindakan, tingkah laku atau perasaan. Karenanya seseorang yang terganggu kesehatan mentalnya bila terjadi kegoncangan emosi, kelainan tingkah laku atau tindakannya.
Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap pasien-pasien yang terganggu kesehatan mentalnya, dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental yang terganggu dapat mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang. Pengaruh itu dibagi dalam empat kelompok yaitu ; perasaan, pikiran/kecerdasan, kelakuan dan kesehatan badan. Hal ini semua tergolong kepada gangguan jiwa, sedangkan sakit jiwa adalah jauh lebih berat.

Perasaan
Diantara gangguan perasaan yang disebabkan oleh kesehatan mental ialah rasa cemas, iri hati, sedih, merasa rendah diri, pemarah, ragu dsb. Untuk jelasnya marilah kita tinjau tiap-tiap persoalan dengan contohnya.

Rasa Cemas
Perasaan tidak menentu, panik, takut tanpa mengetahui ada yang ditakutkan dan tidak dapat menghilangkan perasan gelisah dan mencemaskan itu.  Terlalu banyak hal-hal yang banyak menyebabkan gelisah yang tidak pada tempatnya.

Iri Hati
Seringkali orang mrrasa iri hati atas kebahagiaan orang lain. Perasan ini bukan karena kebusukan hatinya seprti biasa di sangka orang, akan tetapi karena ia sendiri tidak merasakan bahagia dalam hidupnya.


Rasa Sedih
Rasa sedih yang tidak beralasan, atau terlalu banyak hal-hal yang menyedihkannya sehingga air mukannya selalu membanyangkan kesedihan, kendatipun ia seorang yang mampu, berpangkat, dihargai orang dan sebagainya.
Sesungguhnya perasaan sedih ini banyak sekali terjadi. Banyak kita melihat orang yang tidak pernah gembira dalam hidupnya. Sebabnya bermacam-macam, ada ibu yang merasa kesepian karena anak-anaknya sudah, tidak memerlukannya lagi, sedang bapak tidak lagi seperti dulu. Sebaliknya ada bapak yang merasa sedih karena istrinya yang dulu selalu memperhatikan makanan dan minumannya, sekarang telah sibuk mengurus rumah tangga dan anaknya. Kesedihan-kesedihan seperti itu, tidak disebabkan oleh sesuatu hal atau persoalan secara langsung, akan tetapi oleh kesehatan mental yang terganggu.

Rasa rendah Diri
Rasa rendah diri dan tidak percaya diri banyak sekali terjadi pada remaja. Hal ini disebabkan oleh banyaknya problem yang mereka hadapi dan tidak mendapat penyelesaian dan pengertian dari orang tua. Disamping itu mungkin pula akibat pengaruh pendidikan dan perlakuan yang diterimanya waktu masih kecil.
Rasa rendah diri ini menyebabkan orang lekas tersinggung. Karena itu ia mungkin akan menjauhi pergaulan dengan orang banyak, menyendiri, tidak berani mengemukakan pendapat (karena takut salah), tidak berani bertindak atau mengambil suatu inisiatif (takut tidak diterima orang). Lama kelamaan akan hilang kepercayaan pada dirinya, dan selanjutnya ia juga kurnag percaya kepada orang. Ia akan lekas marah atau sedih hati, menjadi apatis dan pesimis.
Bahkan rasa rendah diri itu mungkin akan menyebabkan ia suka mengeritik orang lain, dan tingkah lakunya mungkin akan terlihat sombong. Dalam pergaulan ia menjadi kaku, kurang disenangi oleh kawan-kawannya, karena mudah tersinggung dan tidak banyak ikut aktif dalam pergaulan atau pekerjaan.

Pemarah
Sesungguhnya orang dalam suasana tertentu kadang-kadang perlu marah, akan tetapi kalau ia sering-sering marah yang tidak pada tempatnya atau tidak seimbang dengan sebab yang menimbulkan marah itu, maka yang demikian ada hubungannya dengan kesehatan mental. Marah sebenarnya adalah ungkapan dari perasan hati yang tidak enak, biasanya akibat kekecewaan, ketidakpuasan, tidak tercapai yang diinginkannya. Apabila orang yang sedang merasa tidak enak, tidak puas terhadap dirinya, maka sedikit saja suasana luar mengganggu ia akan menjadi marah. Mungkin anak, istri atau siapapun akan menjadi sasaran kemarahannya yang telah lama ditumpuknya itu.
Seseorang dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu:
(1) mempunyai self image atau gambaran dan sikap terhadap diri sendiri yang positif;
(2) memiliki integrasi diri atau keseimbangan fungsi-fungsi jiwa dalam mengatasi problema hidup termasuk stres;
(3) mampu mengaktualisasikan dirinya secara optimal guna berproses mencapai kematangan;
(4) mampu bersosialisasi atau menerima kehadiran orang lain;
(5) menemukan minat dan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan;
(6) memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya
(7) mawas diri atau memiliki kontrol terhadap segala keinginan yang muncul;
(8) memiliki perasaan benar dan sikap bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.



Dimensi Psikologis Kesehatan Mental
Aspek psikis manusia pada dasarnya merupakan satu kesatuan dengan sistem biologis, sebagai sub sistem dari eksistensi manusia, maka aspek psikis selalu berinteraksi dengan keseluruhan aspek kemanusiaan. Karena itulah aspek psikis tidak dapat dipisahkan untuk melihat sis jiwa manusia.
Ada beberapa aspek psikis yang turut berpengaruh terhadap kesehatan mental, antara lain :
Pengalaman awal
Pengalaman awal merupakan segenap pengalaman-pengalaman yang terjadi pada individu terutama yang terjadi di masa lalunya. Pengalaman awal ini adalah merupakan bagian penting dan bahkan sangat menentukan bagi kondisi mental individu di kemudian hari.
Kebutuhan
Pemenuhan kebutuhan dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang. Orang yang telah mencapai kebutuhan aktualisasi yaitu orang yang mengeksploitasi dan segenap kemampuan bakat, ketrampilannya sepenuhnya, akan mencapai tingkatan apa yang disebut dengan tingkatan pengalaman puncak.
Dalam berbagai penelitian ditemukan bahwa orang-orang yang mengalami gangguan mental, disebabkan oleh ketidakmampuan individu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kebutuhan yang dimaksud di sini adalah kebutuhan dasar yang tersusun secara hirarki. Kebutuhan biologis, kebutuhan rasa aman, meliputi kebutuhan dicintai, kebutuhan harga diri, pengetahuan, keindahan dan kebutuhan aktualisasi diri.








BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Beberapa dimensi dari Psychological Well-Being dalam skala Ryff:
1. Self-Acceptance
2. Positive Relation with Others
3. Autonomy
4. Environmental Mastery
5. Purpose in Life
6. Personal Growth
Faktor-faktor yang mempengaruhi psychological well-being (Andrew and Robinson 1991 dalam skripsi “Gambaran Psychological Well-Being pada Lansia yang terlibat dalam kelompok ‘Kencana’ oleh Endah Puspita Sari (2004) :
a. Faktor kepribadian
b. Faktor dukungan social
c. Faktor pengalaman hidup
Seseorang dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu:
(1) mempunyai self image atau gambaran dan sikap terhadap diri sendiri yang positif;
(2) memiliki integrasi diri atau keseimbangan fungsi-fungsi jiwa dalam mengatasi problema hidup termasuk stres;
(3) mampu mengaktualisasikan dirinya secara optimal guna berproses mencapai kematangan;
(4) mampu bersosialisasi atau menerima kehadiran orang lain;
(5) menemukan minat dan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan;
(6) memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya
(7) mawas diri atau memiliki kontrol terhadap segala keinginan yang muncul;
(8) memiliki perasaan benar dan sikap bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.