PSYCHOLOGYCAL WELL-BEING & KESEHATAN MENTAL
Disusun
Untuk Memenuhi Tugas
Psikologi Kesehatan Mental
Dosen
Pengampuh:
TRISTIADI
ARDI ARDANI, M. Si, Psi
Oleh:
DIANA VF. 07410037
JURUSAN
PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA
MALIK IBRAHIM
April 2010
BAB I
PENDAHULUAN
Kesehatan mental merupakan keinginan
wajar bagi setiap manusia seutuhnya, tapi tidaklah mudah mendapatkan kesehatan
jiwa seperti itu. Perlu pembelajaran tingkah laku, pencegahan yang dimulai
secara dini untuk mendapatkan hasil yang dituju oleh manusia. Tidak seorangpun yang tidak ingin menikmati
ketenangan hidup, dan semua orang akan berusaha mencarinya, meskipun tidak
semuanya dapat mencapai yang diinginkannya itu. Bermacam sebab dan rintangan
yang mungkin terjadi sehingga banyak orang yang mengalami kegelisahan,
kecemasan dan ketidak puasan.
Keadaan yang tidak menyenangkan itu tidak
terbatas kepada golongan tertentu saja, tetapi tergantung pada cara orang
menghadapi sesuatu persoalan. Misalnya ada orang miskin yang gelisah karena
banyak keinginannya yang tidak tercapai, bahkan orang kaya yang juga
gelisah, cemas dan merasa tidak tentram dalam hidupnya yang diakibatkan faktor
lain seperti kebosanan atau ingin menambah hartanya lebih banyak lagi.
Setiap orang, baik yang berpangkat tinggi
atau tidak berpangkat bahkan seorang pesuruh, menemui kesukaran dalam berbagai
bentuk. Hanya satu hal yang sama-sama
dirasakan yaitu ketidaktenangan jiwa. Sesungguhnya ketenangan hidup,
ketentraman jiwa atau kebahagiaan batin, tidak tergantung kepada faktor-faktor
luar seperti keadaan sosial, ekonomi, politik, adat kebiasaan dsb. Akan tetapi
lebih tergantung dari cara dan sikap menghadapi faktor-faktor tersebut.
Jadi yang menentukan ketenangan dan
kebahagiaan hidup adalah kesehatan mental. Kesehatan mental itulah yang
menentukan tanggapan seseorang terhadap suatu persoalan, dan kemampuannya
menyesuaikan diri. Kesehatan mental pulalah yang yang menentukan apakah
orang akan menpunyai kegairahan untuk hidup, atau akan pasif atau tidak
bersemangat.
Orang yang sehat mentalnya
tidak akan lekas merasa putus asa, pesimis atau apatis, karena ia dapat
mengahadapi semua rintangan atau kegagalan hidupnya dengan tenang.
Apabila kegagalan itu dihadapi dengan tenang, akan dapatlah dianalisa, dicari
sebab-sebab yang dimenimbulkannya, atau ditemukan faktor-faktor yang tidak pada
tempatnya. Dengan demikian akan dapat dijadikan pelajaran yaitu menghindari
semua hal-hal yang membawa kegagalan pada waktu yang lain.
Untuk
menelusurinya diperlukan keterbukaan psikis manusia ataupun suatu penelitian
secara langsung atau tidak langsung pada manusia yang menderita gangguan jiwa.
Pada dasarnya
untuk mencapai manusia dalam segala hal diperlukan psikis yang sehat. Sehingga dapat berjalan menurut tujuan manusia itu
diciptakan secara normal.
Permasalahan
Sampai sejauh mana manusia digerogoti
gangguan jiwa dan bagaimana manusia itu melakukan proses penanganan
Tujuan
Untuk memahami
tentang psichologycal well-being dan
kesehatan mental
BAB II
PEMBAHASAN
Dimensi Psychological Well-being
Menurut
Ryff (dalam Adult Development and Aging, 2002) secara psikologis, manusia
memiliki sikap positif terhadap diri dan orang lain. Mereka mampu membuat
keputusan sendiri, dan mengatur tingkah laku mereka, serta mereka mampu memilih
dan membentuk lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Setiap orang
memiliki tujuan yang berarti dalam hidupnya, dan mereka berusaha untuk menggali
dan mengembangkan diri mereka semaksimal mungkin. Ryff dalam buku Human
Development (2000) juga memberi definisi well-being dalam adulthood dan
menunjukkan bagaimana orang dewasa memandang diri mereka sendiri yang berbeda
pada beberapa hal di masa adulthood mereka Berikut ini terdapat beberapa
dimensi dari Psychological Well-Being dalam skala Ryff:
1.
Self-Acceptance
Nilai tinggi:
memiliki sikap yang positif pada diri sendiri, menerima diri baik aspek yang
positif maupun negatif, memandang positif masa lalu
Nilai rendah: merasa tidak puas terhadap diri sendiri, kecewa dengan masa lalu,
ingin menjadi orang yang bebeda dari dirinya saat ini
2. Positive Relation with Others
Nilai tinggi:
hangat, merasa puas, percaya berhubungan dengan orang lain; memikirkan
kesejahteraan orang lain; memiliki empati, affection dan intimacy; dalam suatu
hubungan dapat saling mengerti, memberi, dan menerima.
Nilai rendah: tidak nyaman dekat dengan orang lain, merasa terisolasi dan
frustasi jika berhubungan dengan orang lain, tidak bisa terikat dengan orang
lain
3. Autonomy
Nilai tinggi:
mandiri,mampu mempertahankan diri dari pengaruh luar (tidak konformitas), mampu
mengatur diri, mampu mengevaluasi diri
Nilai rendah: terlalu memperhatikan harapan dan evaluasi dari luar, tidak
membuat keputusan sendiri (minta bantuan dari orang lain untuk mengambil keputusan
penting), konformitas.
4. Environmental
Mastery
Nilai tinggi:
mampu mengatur lingkungan, mampu mengatur aktivitas luar, mampu memnfaatkan
kesempatan yang datang secara efektif, mampu memilih dan menciptakan konteks
yang cocok dengan kebutuhan dan nilai personal
Nilai rendah: sulit mengatur kegiatan sehari-hari, merasa tidak mampu untuk
mengubah atau memperbaiki lingkungan, mengabaikan kesempatan yang hadir, tidak
dapat mengontrol pengaruh dari luar.
5. Purpose in
Life
Nilai tinggi:
memiliki tujuan hidup, merasakan masa kini dan masa lalu adalah berarti,
memiliki keyakinan hidup
Nilai rendah:
kurang memiliki keberartian hidup, sedikit memiliki tujuan hidup, tidak
menganggap tujuan hidupnya di masa lalu, tidak memiliki keyakinan dalam hidup.
6. Personal Growth
Nilai tinggi:
selalu punya keinginan mengembangkan diri, terbuka dengan pengalaman baru,
menyadari potensi yang dimiliki, selalu memperbaiki diri dan tingkah laku
Nilai rendah:
personal stagnation, tidak dapat meningkatkan dan mengembangkan diri, merasa
jenuh dan tidak tertarik dengan kehidupan, merasa tidak mampu untuk
mengembangkan sikap atau tingkah laku yang baru.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi psychological well-being (Andrew and Robinson 1991 dalam
skripsi “Gambaran Psychological Well-Being pada Lansia yang terlibat dalam
kelompok ‘Kencana’ oleh Endah Puspita Sari (2004) :
a. Faktor kepribadian
Hasil penelitian
yang dilakukan oleh Costa dan McCrae (1980) menemukan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara kepribadian extroversion dan neurotis dengan
psychological well-being
b. Faktor
dukungan social
Hasil penelitian
menemukan bahwa dukungan sosial dari lingkungan sekitar individu akan sangat
mempengaruhi psychological well-being yang dirasakan oleh individu tersebut.
c. Faktor pengalaman
hidup
Interpretasi
individu terhadap pengalaman hidupnya akan berpengaruh pada penilaian individu
terhadap kehidupannya secara umum.
Dijelaskan
pula bahwa kesempatan untuk
bertemu dengan teman-teman yang sebaya dapat membuka kesempatan pada individu
usia lanjut untuk belajar dari pengalaman hidup individu lain dan
menginterpretasikan kembali pengalaman hidupnya sehingga akan membantu indivisu
tersebut dalam mengontrol pengalaman emosi positif atau negatif. Dengan
memiliki teman, individu usia lanjut akan merasa memiliki dukungan sosial di
luar keluarganya, menimbulkan perasaan dihargai dan diinginkan meskipun mereka
sudah mengalami kemunduran dan keterbatasan.
Pengertian Kesehatan Mental
Istilah “kesehatan mental” diambil dari
konsep mental hygiene. Kata “mental” diambil dari bahasa Yunani,
pengertiannya sama dengan psyche dalam bahas latin yang artinya psikis, jiwa
atau kejiwaan.
Kesehatan mental merupakan bagian dari
psikologi agama, terus berkembang dengan pesat. Hal ini tidak terlepas dari
kondisi masyarakat yang membutuhkan jawaban atas berbagai permasalahan yang
melingkupinya.
Kesehatan
Mental
Seseorang
dapat dikatakan sehat tidak cukup hanya dilihat dari
segi fisik, psikologis, dan sosial saja, tetapi juga perlu dilihat dari segi spiritual
atau agama. Inilah kemudian yang disebut Dadang Hawari
sebagai empat dimensi sehat itu, yaitu: bio-psiko-sosial-spiritual. Jadi
seseorang yang sehat mentalnya tidak cukup hanya terbatas pada pengertian
terhindarnya dia dari gangguan dan penyakit jiwa baik neurosis maupun psikosis,
melainkan patut pula dilihat sejauhmana seseorang itu mampu menyesuaikan diri
dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, mampu mengharmoniskan fungsi-fungsi
jiwanya, sanggup mengatasi problema hidup termasuk kegelisahan dan konflik
batin yang ada, serta sanggup mengaktualisasikan potensi dirinya untuk mencapai
kebahagiaan
Istilah kesehatan mental sendiri memperoleh pengertian
yang beragam seiring perkembangannya:
(1) sebagai kondisi atau keadaan sebagaimana gambaran di
atas;
(2) sebagai ilmu pengetahuan cabang dari ilmu psikologi
yang bertujuan mengembangkan potensi manusia seoptimal mungkin dan
menghindarkannya dari gangguan dan penyakit kejiwaan;
(3) sebagai terapi atau ilmu terapan guna membantu
mengatasi gangguan dan penyakit kejiwaan.
Untuk mengetahui
apakah seseorang sehat atau terganggu mentalnya, tidaklah mudah. Biasanya yang
dijadikan bahan penyelidikan atau tanda-tanda dari kesehatan mental adalah
tindakan, tingkah laku atau perasaan. Karenanya seseorang yang terganggu
kesehatan mentalnya bila terjadi kegoncangan emosi, kelainan tingkah laku atau
tindakannya.
Dari hasil
penelitian yang dilakukan terhadap pasien-pasien yang terganggu kesehatan
mentalnya, dapat disimpulkan bahwa kesehatan mental yang terganggu dapat
mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang. Pengaruh itu dibagi dalam empat
kelompok yaitu ; perasaan, pikiran/kecerdasan, kelakuan dan kesehatan badan.
Hal ini semua tergolong kepada gangguan jiwa, sedangkan sakit jiwa adalah jauh
lebih berat.
Perasaan
Diantara gangguan
perasaan yang disebabkan oleh kesehatan mental ialah rasa cemas, iri hati,
sedih, merasa rendah diri, pemarah, ragu dsb. Untuk jelasnya marilah kita
tinjau tiap-tiap persoalan dengan contohnya.
Rasa Cemas
Perasaan tidak
menentu, panik, takut tanpa mengetahui ada yang ditakutkan dan tidak dapat
menghilangkan perasan gelisah dan mencemaskan itu. Terlalu banyak hal-hal
yang banyak menyebabkan gelisah yang tidak pada tempatnya.
Iri Hati
Seringkali orang
mrrasa iri hati atas kebahagiaan orang lain. Perasan ini bukan karena kebusukan
hatinya seprti biasa di sangka orang, akan tetapi karena ia sendiri tidak
merasakan bahagia dalam hidupnya.
Rasa Sedih
Rasa sedih yang
tidak beralasan, atau terlalu banyak hal-hal yang menyedihkannya sehingga air
mukannya selalu membanyangkan kesedihan, kendatipun ia seorang yang mampu,
berpangkat, dihargai orang dan sebagainya.
Sesungguhnya perasaan
sedih ini banyak sekali terjadi. Banyak kita melihat orang yang tidak pernah
gembira dalam hidupnya. Sebabnya bermacam-macam, ada ibu yang merasa kesepian
karena anak-anaknya sudah, tidak memerlukannya lagi, sedang bapak tidak lagi
seperti dulu. Sebaliknya ada bapak yang merasa sedih karena istrinya yang dulu
selalu memperhatikan makanan dan minumannya, sekarang telah sibuk mengurus
rumah tangga dan anaknya. Kesedihan-kesedihan seperti itu, tidak disebabkan
oleh sesuatu hal atau persoalan secara langsung, akan tetapi oleh kesehatan
mental yang terganggu.
Rasa rendah Diri
Rasa rendah diri
dan tidak percaya diri banyak sekali terjadi pada remaja. Hal ini disebabkan
oleh banyaknya problem yang mereka hadapi dan tidak mendapat penyelesaian dan
pengertian dari orang tua. Disamping itu mungkin pula akibat pengaruh
pendidikan dan perlakuan yang diterimanya waktu masih kecil.
Rasa rendah diri
ini menyebabkan orang lekas tersinggung. Karena itu ia mungkin akan menjauhi
pergaulan dengan orang banyak, menyendiri, tidak berani mengemukakan pendapat
(karena takut salah), tidak berani bertindak atau mengambil suatu inisiatif
(takut tidak diterima orang). Lama kelamaan akan hilang kepercayaan pada
dirinya, dan selanjutnya ia juga kurnag percaya kepada orang. Ia akan lekas
marah atau sedih hati, menjadi apatis dan pesimis.
Bahkan rasa rendah
diri itu mungkin akan menyebabkan ia suka mengeritik orang lain, dan tingkah
lakunya mungkin akan terlihat sombong. Dalam pergaulan ia menjadi kaku, kurang
disenangi oleh kawan-kawannya, karena mudah tersinggung dan tidak banyak ikut
aktif dalam pergaulan atau pekerjaan.
Pemarah
Sesungguhnya orang
dalam suasana tertentu kadang-kadang perlu marah, akan tetapi kalau ia
sering-sering marah yang tidak pada tempatnya atau tidak seimbang dengan sebab
yang menimbulkan marah itu, maka yang demikian ada hubungannya dengan kesehatan
mental. Marah sebenarnya adalah ungkapan dari perasan hati yang tidak enak,
biasanya akibat kekecewaan, ketidakpuasan, tidak tercapai yang diinginkannya.
Apabila orang yang sedang merasa tidak enak, tidak puas terhadap dirinya, maka
sedikit saja suasana luar mengganggu ia akan menjadi marah. Mungkin anak, istri
atau siapapun akan menjadi sasaran kemarahannya yang telah lama ditumpuknya
itu.
Seseorang dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya
dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu:
(1) mempunyai self image atau gambaran dan sikap terhadap
diri sendiri yang positif;
(2) memiliki integrasi diri atau keseimbangan
fungsi-fungsi jiwa dalam mengatasi problema hidup termasuk stres;
(3) mampu mengaktualisasikan dirinya secara optimal guna
berproses mencapai kematangan;
(4) mampu bersosialisasi atau menerima kehadiran orang
lain;
(5) menemukan minat dan kepuasan atas pekerjaan yang
dilakukan;
(6) memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan
makna dan tujuan bagi hidupnya
(7) mawas diri atau memiliki kontrol terhadap segala
keinginan yang muncul;
(8) memiliki perasaan benar dan sikap bertanggung jawab
atas perbuatan-perbuatannya.
Dimensi Psikologis Kesehatan Mental
Aspek psikis manusia pada dasarnya
merupakan satu kesatuan dengan sistem biologis, sebagai sub sistem dari
eksistensi manusia, maka aspek psikis selalu berinteraksi dengan keseluruhan
aspek kemanusiaan. Karena itulah aspek psikis tidak dapat dipisahkan untuk
melihat sis jiwa manusia.
Ada beberapa aspek psikis yang turut
berpengaruh terhadap kesehatan mental, antara lain :
Pengalaman awal
Pengalaman awal merupakan segenap
pengalaman-pengalaman yang terjadi pada individu terutama yang terjadi di masa
lalunya. Pengalaman awal ini adalah merupakan bagian penting dan bahkan sangat
menentukan bagi kondisi mental individu di kemudian hari.
Kebutuhan
Pemenuhan kebutuhan dapat meningkatkan
kesehatan mental seseorang. Orang yang telah mencapai kebutuhan aktualisasi
yaitu orang yang mengeksploitasi dan segenap kemampuan bakat, ketrampilannya
sepenuhnya, akan mencapai tingkatan apa yang disebut dengan tingkatan
pengalaman puncak.
Dalam berbagai penelitian ditemukan
bahwa orang-orang yang mengalami gangguan mental, disebabkan oleh
ketidakmampuan individu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Kebutuhan yang
dimaksud di sini adalah kebutuhan dasar yang tersusun secara hirarki. Kebutuhan biologis, kebutuhan rasa aman, meliputi
kebutuhan dicintai, kebutuhan harga diri, pengetahuan, keindahan dan kebutuhan
aktualisasi diri.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Beberapa dimensi dari Psychological
Well-Being dalam skala Ryff:
1. Self-Acceptance
2. Positive
Relation with Others
3. Autonomy
4. Environmental
Mastery
5. Purpose in
Life
6. Personal
Growth
Faktor-faktor
yang mempengaruhi psychological well-being (Andrew and Robinson 1991 dalam
skripsi “Gambaran Psychological Well-Being pada Lansia yang terlibat dalam
kelompok ‘Kencana’ oleh Endah Puspita Sari (2004) :
a. Faktor kepribadian
b. Faktor
dukungan social
c. Faktor
pengalaman hidup
Seseorang dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya
dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu:
(1) mempunyai self image
atau gambaran dan sikap terhadap diri sendiri yang positif;
(2) memiliki integrasi
diri atau keseimbangan fungsi-fungsi jiwa dalam mengatasi problema hidup
termasuk stres;
(3) mampu
mengaktualisasikan dirinya secara optimal guna berproses mencapai kematangan;
(4) mampu bersosialisasi
atau menerima kehadiran orang lain;
(5) menemukan minat dan
kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan;
(6) memiliki falsafah atau
agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya
(7) mawas diri atau
memiliki kontrol terhadap segala keinginan yang muncul;
(8) memiliki perasaan
benar dan sikap bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.